Siklusnya Memang Selalu Begitu.
Bagi diri gue yang hampir berumur 20 tahun ini, nggak ada yang namanya kebahagiaan abadi.
Mau sebahagia apapun hidup gue, pasti akan selalu berganti momennya. Lewat, dan berlalu. Selalu begitu.
A place where I can pour out everything that distract my mind.
Bagi diri gue yang hampir berumur 20 tahun ini, nggak ada yang namanya kebahagiaan abadi.
Mau sebahagia apapun hidup gue, pasti akan selalu berganti momennya. Lewat, dan berlalu. Selalu begitu.
Satu-dua hal yang tak terduga, kadang memang tidak sesuai dengan rencana yang ada.
Memang awalnya kesal setengah mati karena rencana yang udah disusun matang-matang malah nggak berjalan sesuai dengan apa yang ada di kepala.
Tapi, sadar nggak sih kalau terkadang, beberapa hal yang berujung membahagiakan itu dimulai dari hal-hal tak terduga di luar rencana kita?
Pernah satu waktu, ada banyak kata-kata yang ingin dikeluarkan oleh kepala. Namun, ketika sudah menulisnya, mendadak merasa kalau segala unek-unek itu nggak seharusnya dikeluarkan. Ujung-ujungnya, mengurungkan niat untuk sekedar ngetweet atau berbalas chat dengan teman.
Kenapa, ya?
Mungkin untuk sebagian orang, mengungkapkan perasaan adalah hal yang mudah, dan sisanya? Nggak bisa dengan gamblang mengungkapkan apa yang mereka rasa.
Ada sesuatu yang disimpan rapat-rapat di dalam hati, tidak diketahui oleh siapapun selain diri sendiri.
Bukan karena tidak ingin, tetapi karena takut untuk mengetahui sebab akibat dari segelintir kalimat yang terucap.
No. Please dont say that I should love myself or everyone is beautiful in their own way so that you dont have to feel insecure, or something like “Everything will be alright, it takes time but everything will be alright.”
Please. No. Everything isnt right from the first time it comes to my life.
Gimana, ya, rasanya jadi mereka?
Yang selalu terlihat bahagia dan punya banyak teman untuk diajak cerita.
Yang bisa menghabiskan hari ini seakan-akan hari esok udah nggak ada dan nggak merasa takut sekalipun.
Di suatu siang yang terik, di tengah keramaian kendaraan dan manusia yang berlalu lalang, hiduplah seekor kucing kecil.
Kucing kecil hidup seorang diri. Ibunya sudah mati, dan saudaranya pergi.
Ia duduk di suatu tempat tersembunyi, kadang di gang sempit yang kotor dan becek, kadang di dekat tempat sampah yang bau, atau di atas aspal yang berdebu.
Untuk apa dijelaskan? Toh nggak bakal ada yang mengerti. Bahkan gue sendiri nggak paham apa yang menyebabkan gue merasakan hal seperti ini.
Pernah sekali gue mencoba cerita, tapi malah dianggap aneh dan nggak jelas, membuat bingung karena gue bahkan gak mengerti darimana asalnya semua kesedihan dan ketakutan yang gue rasakan.
Semua nampak menyeramkan.
Selalu ada cerita.
Entah tentang hari ini, kemarin, atau hari-hari yang telah lalu, dan semua itu membuat gue merasa benar-benar hidup.
Hidup layaknya manusia yang bisa merasakan sedih, senang, tegang, grogi, deg-degan, takut, dan masih banyak lagi.
Iya, belakangan ini gue sering merasakan hal-hal tersebut, dan selalu ada cerita lucu di balik itu semua.
Ada sesuatu yang tiba-tiba masuk ke dalam pikiran, berbuat semena-mena dan mengacaukan segala rencana yang sudah gue susun dengan rapi.
Namanya overthinking.
Dan gue sudah berteman dengannya selama bertahun-tahun hingga saat ini.