Terkadang, Tidak Ada yang Mengerti.
Pernah satu waktu, ada banyak kata-kata yang ingin dikeluarkan oleh kepala. Namun, ketika sudah menulisnya, mendadak merasa kalau segala unek-unek itu nggak seharusnya dikeluarkan. Ujung-ujungnya, mengurungkan niat untuk sekedar ngetweet atau berbalas chat dengan teman.
Kenapa, ya?
Entah. Kadang, gue merasa kalau sebenarnya gue nggak bisa seterbuka itu kepada orang lain karena satu dan lain hal.
Mungkin memang gue aja yang suka nggak enakan dengan orang lain, sulit untuk dekat dan merasa nyaman, juga takut mengganggu waktu mereka.
Bahkan kepada teman dekat pun gue masih belum bisa mengeluarkan apa yang ada di pikiran gue. Kenapa? Karena gue malu.
Banyak dari temen gue yang nyatanya berada di bawah tekanan yang lebih berat dari gue, tapi mereka bisa menahan itu semua dan nggak mengeluh.
Masih bisa keep up with their things and problems.
Dan gue nggak seperti itu.
Ketika gue berada di bawah tekanan, gue ingin sekali menangis karena merasa bingung. Padahal, gue sendiri nggak tau apa yang gue bingungkan.
Tapi daripada itu, kalian tau apa yang lebih menyakitkan dari sekedar sedih hingga menangis?
Merasa sedih tapi nggak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk menangis aja rasanya sulit.
Rasanya seperti ada beban besar di dalam hati gue, isinya penuh dengan kesedihan dan kekhawatiran. Beban itu nggak bisa hilang dalam waktu cepat.
Dia melekat, untuk waktu yang cukup lama.
Sayangnya, nggak ada yang bisa melihat.
Hanya gue yang dapat merasakannya. Perasaan bingung dan sedih yang kadang tidak bisa disalurkan.
Mungkin... kamu nggak akan mengerti.
Tapi nggak masalah, toh ini juga bukan sesuatu yang akan dibawa sampai mati.
Beban itu akan hilang dan berganti. Hanya satu yang pasti, dia akan kembali.
Entah dalam waktu dekat setelah gue merasakan kebahagiaan bertubi-tubi, atau nanti.
Yang jelas, dia akan datang lagi, dan lagi.