Cerita Tentang Seekor Kucing


Di suatu siang yang terik, di tengah keramaian kendaraan dan manusia yang berlalu lalang, hiduplah seekor kucing kecil.

Kucing kecil hidup seorang diri. Ibunya sudah mati, dan saudaranya pergi.

Ia duduk di suatu tempat tersembunyi, kadang di gang sempit yang kotor dan becek, kadang di dekat tempat sampah yang bau, atau di atas aspal yang berdebu.

Perutnya lapar, belum mendapat makan sejak pagi. Maka dari itu, sang kucing berniat untuk mencari makan siangnya.

“Aku ingin makan ikan yang enak.”

Ia berujar sambil berjalan perlahan dengan kaki kotornya, mengikuti aroma makanan yang membuat rasa lapar di perutnya semakin tak tertahankan.

Setibanya ia di tempat dengan bau yang begitu nikmat, kakinya mendadak berhenti kala menyadari bahwa sosok orang-orang tinggi sedang asik melakukan kegiatan yang tidak ia mengerti.

Tidak jarang orang-orang itu menatap sang kucing dengan pandangan jijik seakan kehadirannya membawa beragam penyakit menular yang begitu berbahaya.

“Lapar..”

Ia mengeong sekali, berusaha mendekat kepada salah satu meja.

“Ih, kotor banget!”

Dan untuk yang kesekian kalinya, tubuh sang kucing terbentur ke tanah akibat dorongan yang begitu kencang.

Memang benar dia kotor.

Bulunya yang putih sudah mulai berubah warna menjadi kekuningan, berantakan tak karuan lantaran seringkali disirami air, dilempari benda-benda yang tidak ia ketahui namanya, dan dipukul sapu lidi ketika sedang mencari makan.

Ada pula luka-luka yang masih belum mengering akibat berkelahi dengan kucing lain demi mempertahankan tempat istirahatnya.

Kukunya berwarna hitam karena menggali tanah dan kumpulan sampah, hampir setiap hari.

Terkadang kucing kecil merasa iri dengan temannya yang memiliki tempat untuk tinggal dan kembali.

Iri dengan temannya yang tidak perlu merasakan sakit ketika ditendang, disiram air, dan disakiti oleh makhluk besar dengan tatapan mengerikan.

Padahal, ia tidak melakukan apa-apa.

Ia hanya ingin bertahan hidup dengan semestinya.

Tetapi, meskipun sudah disakiti berkali-kali, ia selalu gigih untuk kembali, dan bertahan setiap kali dijahati oleh sesama makhluk hidup.

Kucing kecil berharap, suatu saat nanti akan ada orang yang dapat menyayanginya, dan rasa sakit beserta beragam tindakan kekerasan yang ia rasakan dapat berakhir.

Sampai saat itu tiba, ia tidak akan menyerah.