Siklusnya Memang Selalu Begitu.


Bagi diri gue yang hampir berumur 20 tahun ini, nggak ada yang namanya kebahagiaan abadi.

Mau sebahagia apapun hidup gue, pasti akan selalu berganti momennya. Lewat, dan berlalu. Selalu begitu.

Kadang sedih, kesal, kecewa, merasa buruk, sakit hati, marah, khawatir, dan masih banyak lagi.

Ada banyak perasaan yang bisa kita rasakan dalam kehidupan. Sedihnya, terkadang kita nggak bisa memilih mau merasakan perasaan yang seperti apa.

Perasaan itu datang secara bergantian.

Pasti ada siklusnya.

Entah itu sedih lalu senang, tiba-tiba marah, dan kembali sedih atau malah sebaliknya.

Seperti cerpen atau novel yang memiliki alurnya sendiri, begitu juga hidup. Ada awalan, konflik, klimaks, anti-klimaks, juga penyelesaiannya masing-masing.

Bedanya, dalam hidup kita, alur tersebut terus-terusan berulang hingga menjadi sebuah siklus yang dapat dipahami.

Gue takut untuk jadi terlalu bahagia, karena gue tau kalau setelahnya akan ada hal-hal nggak terduga yang rasanya dapat membolak-balikan dunia gue pada saat itu juga.

Karena memang, sejauh yang gue rasakan, siklusnya akan selalu seperti itu.

Dan untuk saat ini, entah kenapa gue merasa kalau sudah saatnya bagian bahagia dalam siklus hidup gue berganti.

Nggak tau dia akan berganti dengan bagian yang mana.

Yang jelas, setelah berhasil melalui satu siklus, gue bisa menjadi sosok yang sedikit lebih kuat untuk menghadapi siklus selanjutnya.

So, don't stop, don't lose hope. You still have a long way to go. If you want to stop, remember why you started.