Pada akhirnya, kamu hanya punya dirimu sendiri.
Hai, ini catatan dari seorang pesimis yang kerap kali merasa ragu akan hal-hal yang ingin sekali ia lakukan.
Ini juga merupakan catatan dari seorang dengan banyak pikiran-pikiran nggak mengenakkan yang seringkali bermunculan di kepalanya.
Kasihan, ya?
“Nggak apa-apa, udah biasa. I can deal with it kok, ini bukan hanya sekali dua kali aku seperti itu.”
Bohong.
The truth is, rasanya sangat amat menyakitkan dan menyiksa diri.
Udah nggak terhitung seberapa sering sosoknya yang pesimis dan selalu memikirkan kemungkinan terburuk dalam setiap kejadian di hidupnya itu menangis, ketakutan.
Lelah.
Emosi.
Marah.
Dan tidak tahu harus mengatakannya pada siapa.
Perasaan yang bercampur itu, lama-kelamaan akhirnya hanya dapat meluruh bersamaan dengan air mata dan tangis.
Memang ia cengeng.
Tapi baginya itu adalah salah satu cara untuk merasa lebih baik karena seringkali, ia enggan untuk bercerita kepada orang lain.
Lagipula, untuk apa bercerita jika pada akhirnya tidak ada yang berubah?
Iya, tangis memang tidak dapat mengubah apapun, tetapi dirasa dapat membuat dirinya lebih baik.
Namun, adakalanya ketika bercerita kepada orang lain, banyak yang tidak dapat mengerti, justru terkadang membuat dirinya merasa lebih buruk.
Maka dari itu, baginya, menangis adalah salah satu cara yang paling mudah untuk membuat ia merasa lebih baik.
Semakin bertambah usia, ia belajar bahwa pada akhirnya ia tidak memiliki orang lain selain dirinya sendiri.
Mungkin memang sosoknya tidak sempurna, memiliki luka yang berkali-kali terkelupas kembali setelah sempat kering. Namun, hal tersebut justru membuat dirinya menjadi semakin kuat.
Ia mampu tiba pada titik ini, dan itu semua berkat kemampuannya untuk bertahan dalam melalui segala rintangan yang pernah ia lewati sebelumnya.
Untuk aku yang sudah bertahan hingga sejauh ini, terima kasih karena tidak menyerah.
Untuk aku yang telah mampu mendapatkan segala pencapaian serta menghadapi rintangan yang telah dilalui, terima kasih.
Kamu masih harus berjuang lagi, berjalan beriringan dengan perasaan takut, pikiran-pikiran mengganggu, dan rasa pesimis yang kerap kali muncul.
Aku harap, hingga tibanya bahagia, kamu tetap kuat bertahan melalui segalanya.
Aku percaya aku bisa.
Meskipun nanti nggak ada seorangpun yang menyayangiku, aku nggak perlu takut.
Karena seharusnya, aku adalah satu-satunya orang yang dapat menyayangi diriku sendiri lebih dari apapun.