Mengeluh, tetapi tidak jatuh.


Akhir Januari 2021, bisa dibilang adalah awal tahun yang cukup berat untuk gue lalui.

Banyak sekali hal diluar ekspektasi yang datang bertubi-tubi. Rasanya seperti mimpi buruk yang nggak berujung. Perasan bersalah, cemas, khawatir, sedih, marah, kesal, kecewa, hampir gue rasakan setiap malam sejak gue harus diisolasi di wisma atlet.

Iya, gue adalah salah satu pejuang negatif covid-19 sejak tanggal 25 Januari 2021. Bukan cuma gue, bahkan satu keluarga gue pun harus bisa menerima kenyataan bahwa mereka positif covid-19.

Saat itu rasa bersalah benar-benar nggak bisa gue hindari karena gue adalah orang pertama yang dinyatakan positif covid-19 di keluarga gue.

Gue sempat beberapa kali berpikir, apakah gue sedang diberi cobaan atau malah ini adalah sebuah hukuman?

27 Januari 2021 adalah awal mula mimpi buruk yang sesungguhnya. Ibu dan kakak gue masuk ke wisma atlet, tapi keadaan Ibu gue memburuk karena sesak. Ibu gue dirawat di ruang khusus, dan harus dibantu dengan alat bantu pernapasan.

Sejak saat itu hari-hari isolasi gue di wisma atlet mulai terasa begitu melelahkan, baik secara psikis maupun fisik.

Gue takut setiap kali harus menginjakkan kaki ke IGD dan HCU tempat Ibu gue dirawat, pun gue jadi sangat amat ketakutan setiap kali mendengar suara alat bantu napas, hingga suara sepatu boots perawat ataupun dokter yang lewat.

Kalau boleh jujur, rasanya berat. Berat sekali setiap harinya. Gue, Kakak, Adek, dan Bapak harus gantian berjaga di IGD dan sekarang pindah ke HCU, dengan kondisi yang sama-sama sakit. Belum lagi sepulang menjaga harus cuci baju dan jemur, makan, minum obat.

Terkadang gue merasa bahwa gue nggak memiliki waktu untuk memikirkan diri sendiri.

Gue benar-benar cemas, takut, sampai di titik di mana gue nggak bisa tidur nyenyak karena jantung yang berdebar kencang dan pikiran yang nggak bisa tenang.

Saat itu alih-alih merasa sedih, gue lebih merasa marah dan kesal atas segala hal yang terjadi. Entah, mungkin karena lelah, kewalahan dengan banyak hal yang datang bertubi-tubi.

Kenapa harus gue? Kenapa begini? Kenapa sekarang? Kenapa semuanya jadi hancur berantakan kayak gini?

Gue hampir berada di titik terendah gue, rasanya mau ngeluh dan nangis sekencang-kencangnya, tapi gue merasa nggak pantas akan hal itu.

Banyak yang melalui masa-masa sulit ini lebih dari gue. Kakak, Adek, Bapak, semua juga merasakan hal yang sama. Bahkan mungkin keluarga lain pun pernah melalui fase ini.

Dalam masa-masa itu gue belajar bahwa terkadang, setelah seluruh doa dan usaha yang sudah dilakukan, ada kalanya kita hanya harus berserah kepada Tuhan mengenai hasil akhir yang akan diberikan.

Kita nggak akan pernah tau apa yang akan terjadi besok, lusa, atau bahkan satu menit dari sekarang.

Gue mulai belajar bahwa, untuk saat ini lakukan segala hal dengan sepenuh hati, dan kurangi perasaan egois yang ada di dalam diri.

Kita bukan berlomba untuk menunjukkan siapa yang paling lelah dan capek, tapi bagaimana dalam keadaan yang sama-sama melelahkan ini, kita bisa saling menguatkan.