Dipermainkan oleh Perasaan.
Ada satu masa, dimana terkadang logika dan perasaan gue tidak dapat bekerja sama.
Yang satu bilang mundur, dan satu lagi tetap ingin mencoba meskipun tau apa akibatnya.
Aneh, ya? Memang. Kalau udah begitu, kadang suka muncul kata, “Seandainya,” “Seharusnya,” “Coba aja waktu itu ...”
Yang lebih aneh lagi, ada satu waktu dimana, logika gue benar-benar diambil alih oleh perasaan.
Dan gue akan benar-benar terlihat bodoh karena hal itu.
Padahal, gue udah berkali-kali memperingati diri sendiri bahwa seharusnya nggak begini, tapi pada akhirnya tetap aja dilakukan dan dilanjutkan.
Aneh banget, sampai mau ketawa rasanya. Iya, ngetawain kebodohan diri sendiri.
Kata orang, ikuti kata hati. Tapi, nggak jarang, kata hati gue malah membuat diri sendiri merasa uring-uringan dan kelabu.
Kalau udah begini, gue harus bagaimana?