Diam yang Berisik.
Ada masanya, dimana mulut enggan untuk berkomentar, tangan diam tidak ingin menulis namun, isi kepala berisik tidak bisa diam.
Pernah mengalaminya? Kalau gue, sering.
Dalam beberapa situasi yang gue alami, kejadian semacam itu rasanya sudah seperti kebiasaan.
Rasanya memang nggak enak. Tapi sedihnya, sampai saat ini gue masih belum bisa menemukan cara untuk mengatasinya.
Kemarin, gue curhat. Kata teman gue, alangkah baiknya hal seperti itu diutarakan aja, nggak perlu mikir gimana respon orang lain, yang penting, keluarin aja.
Kalau boleh jujur, sebenarnya diam yang berisik itu sedikit mengganggu, tapi kalau gue udah terbiasa bersahabat dengan hal itu, mau bagaimana?
Lagi, diam yang berisik nggak melulu mengenai isi kepala.
Hati gue juga berisik banget belakangan ini. Mungkin kalau bisa ngomong, dia udah bikin geger satu komplek saking berisiknya.
Tau nggak kenapa?
Jawabannya cuma satu.
Karena kamu.