<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>SEJENAK</title>
    <link>https://senanjana.writeas.com/</link>
    <description>A place where I can pour out everything that distract my mind.</description>
    <pubDate>Sat, 04 Apr 2026 02:47:47 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Memangnya hidup itu perlombaan?</title>
      <link>https://senanjana.writeas.com/memangnya-hidup-itu-perlombaan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;Memangnya hidup itu perlombaan?&#xA;&#xA;Jika tidak, mengapa banyak yang saling menjatuhkan hanya untuk mendapatkan hal yang ia anggap sebuah kemenangan?&#xA;&#xA;Jika memang tujuannya adalah untuk mencapai sebuah kemenangan, bisa dijelaskan apa definisi kemenangan itu?&#xA;&#xA;Setiap orang pasti dapat memberikan deskripsi yang berbeda terhadap kemenangan pun tujuan mereka. Lantas, mengapa harus dijadikan sebuah perlombaan jika sejak awal garis kemenangannya sudah tidak sama? !--more--&#xA;&#xA;Alih-alih perlombaan, menurut gue kehidupan adalah sebuah lintasan, di mana setiap orang memiliki pemberhentian yang berbeda.&#xA;&#xA;Kadang ada yang berhenti sejenak, ada pula yang berhenti cukup lama, tetapi semua pada lintasan mereka masing-masing, pada kecepatan dan perjalanan mereka masing-masing.&#xA;&#xA;Ada yang mencoba untuk menumbuhi rumput di lintasannya, ada pula yang menumbuhinya dengan buah kesukaannya. &#xA;&#xA;Ada yang terus berlari cepat tanpa sempat menumbuhi apa-apa, tanpa tahu ia mengejar apa, dan ada yang berjalan dengan tenang sambil mendengarkan musik sesuai dengan suasana hatinya.&#xA;&#xA;Gangguan sudah pasti datang bermunculan, tetapi kita memiliki pilihan untuk tidak terlalu memikirkannya dan terus melaju atau menyelesaikannya meski memakan waktu.&#xA;&#xA;&#34;Melewati perjalanan dalam lintasan yang kita lalui dengan melakukan berbagai hal tanpa melirik seberapa banyak orang lain telah melakukan hal itu di lintasannya, agaknya akan terasa lebih damai dan menyenangkan.&#34;&#xA;&#xA;Jadi, apakah hidup itu adalah sebuah perlombaan?&#xA;Jawabannya ada pada diri sendiri yang menentukan.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>Memangnya hidup itu perlombaan?</p>

<p>Jika tidak, mengapa banyak yang saling menjatuhkan hanya untuk mendapatkan hal yang ia anggap sebuah kemenangan?</p>

<p>Jika memang tujuannya adalah untuk mencapai sebuah kemenangan, bisa dijelaskan apa definisi kemenangan itu?</p>

<p>Setiap orang pasti dapat memberikan deskripsi yang berbeda terhadap kemenangan pun tujuan mereka. Lantas, mengapa harus dijadikan sebuah perlombaan jika sejak awal garis kemenangannya sudah tidak sama? </p>

<p>Alih-alih perlombaan, menurut gue kehidupan adalah sebuah lintasan, di mana setiap orang memiliki pemberhentian yang berbeda.</p>

<p>Kadang ada yang berhenti sejenak, ada pula yang berhenti cukup lama, tetapi semua pada lintasan mereka masing-masing, pada kecepatan dan perjalanan mereka masing-masing.</p>

<p>Ada yang mencoba untuk menumbuhi rumput di lintasannya, ada pula yang menumbuhinya dengan buah kesukaannya.</p>

<p>Ada yang terus berlari cepat tanpa sempat menumbuhi apa-apa, tanpa tahu ia mengejar apa, dan ada yang berjalan dengan tenang sambil mendengarkan musik sesuai dengan suasana hatinya.</p>

<p>Gangguan sudah pasti datang bermunculan, tetapi kita memiliki pilihan untuk tidak terlalu memikirkannya dan terus melaju atau menyelesaikannya meski memakan waktu.</p>

<p>“Melewati perjalanan dalam lintasan yang kita lalui dengan melakukan berbagai hal tanpa melirik seberapa banyak orang lain telah melakukan hal itu di lintasannya, agaknya akan terasa lebih damai dan menyenangkan.”</p>

<p>Jadi, apakah hidup itu adalah sebuah perlombaan?
Jawabannya ada pada diri sendiri yang menentukan.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://senanjana.writeas.com/memangnya-hidup-itu-perlombaan</guid>
      <pubDate>Fri, 23 Apr 2021 03:37:20 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Dewasa bukan hanya sekedar usia.</title>
      <link>https://senanjana.writeas.com/dewasa-bukan-hanya-sekedar-usia?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;Banyak yang bilang menjadi orang dewasa adalah hal yang cukup melelahkan. Seringkali orang yang sudah memiliki KTP, pekerjaan, dan penghasilan, serta orang yang sudah berada dalam usia di mana dia diharuskan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, dianggap sebagai orang dewasa.&#xA;&#xA;Dulu waktu masih jadi anak sekolah, rasanya gue ingin cepat-cepat menjadi orang dewasa tanpa pernah paham maksud dewasa yang sesungguhnya. Setelah dipikir-pikir, mungkin dulu keinginan itu terlintas karena rasa penasaran terhadap hal-hal yang hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang katanya sudah &#39;dewasa&#39;. !--more--&#xA;&#xA;Sekarang, ketika gue sudah dapat memaknai arti dewasa, rasanya gue malah ingin kembali menjadi anak-anak karena bagi diri gue yang berumur 20 tahun, dewasa bukan hanya sekedar rutinitas dan usia. &#xA;&#xA;Melihat dari orang-orang yang ada di sekitar, beberapa yang menganggap ataupun merasa bahwa dirinya adalah orang dewasa, seringkali bersikap kekanakan tanpa ia sadari. &#xA;&#xA;Terkadang masih suka memaksakan kehendak, pun merasa bahwa dirinya tahu lebih banyak hal dari orang lain yang dianggap lebih muda, dan hal itu nggak menutup kemungkinan kalau dalam beberapa situasi, ia selalu merasa bahwa dirinyalah yang paling benar.&#xA;&#xA;Padahal menurut gue seharusnya enggak begitu. &#xA;&#xA;Dewasa bukan hanya sekedar tua-muda ataupun usia. &#xA;&#xA;Lebih dari itu, ketika sudah menjadi orang dewasa, kita harus dapat mempertanggungjawabkan pilihan kita, bersikap bijak, dan tidak melulu menyalahkan oranglain maupun keadaan ketika sedang berada dalam posisi tidak mengenakkan.&#xA;&#xA;Menjadi dewasa adalah dengan mengerti bahwa selama kita menjalani hidup, segala sesuatu tidak selalu berada di dalam genggaman dan kendali kita, mengerti bahwa untuk belajar tidak harus selalu melalui orang yang lebih tua pun paling ahli.&#xA;&#xA;Kalau bisa ngobrol dengan diri gue saat masih duduk di bangku sekolah, hal yang ingin gue katakan adalah, &#34;Nggak perlu buru-buru untuk menjadi dewasa, nanti juga akan tiba waktunya. Setiap fase dalam hidup punya momen yang berharga, tergantung dengan gimana cara kita menikmatinya. Masalah bukan jadi alasan untuk menyerah. Setidaknya, belum saatnya.&#34; ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>Banyak yang bilang menjadi orang dewasa adalah hal yang cukup melelahkan. Seringkali orang yang sudah memiliki KTP, pekerjaan, dan penghasilan, serta orang yang sudah berada dalam usia di mana dia diharuskan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, dianggap sebagai orang dewasa.</p>

<p>Dulu waktu masih jadi anak sekolah, rasanya gue ingin cepat-cepat menjadi orang dewasa tanpa pernah paham maksud dewasa yang sesungguhnya. Setelah dipikir-pikir, mungkin dulu keinginan itu terlintas karena rasa penasaran terhadap hal-hal yang hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang katanya sudah &#39;dewasa&#39;. </p>

<p>Sekarang, ketika gue sudah dapat memaknai arti dewasa, rasanya gue malah ingin kembali menjadi anak-anak karena bagi diri gue yang berumur 20 tahun, dewasa bukan hanya sekedar rutinitas dan usia.</p>

<p>Melihat dari orang-orang yang ada di sekitar, beberapa yang menganggap ataupun merasa bahwa dirinya adalah orang dewasa, seringkali bersikap kekanakan tanpa ia sadari.</p>

<p>Terkadang masih suka memaksakan kehendak, pun merasa bahwa dirinya tahu lebih banyak hal dari orang lain yang dianggap lebih muda, dan hal itu nggak menutup kemungkinan kalau dalam beberapa situasi, ia selalu merasa bahwa dirinyalah yang paling benar.</p>

<p>Padahal menurut gue seharusnya enggak begitu.</p>

<p>Dewasa bukan hanya sekedar tua-muda ataupun usia.</p>

<p>Lebih dari itu, ketika sudah menjadi orang dewasa, kita harus dapat mempertanggungjawabkan pilihan kita, bersikap bijak, dan tidak melulu menyalahkan oranglain maupun keadaan ketika sedang berada dalam posisi tidak mengenakkan.</p>

<p>Menjadi dewasa adalah dengan mengerti bahwa selama kita menjalani hidup, segala sesuatu tidak selalu berada di dalam genggaman dan kendali kita, mengerti bahwa untuk belajar tidak harus selalu melalui orang yang lebih tua pun paling ahli.</p>

<p>Kalau bisa ngobrol dengan diri gue saat masih duduk di bangku sekolah, hal yang ingin gue katakan adalah, “Nggak perlu buru-buru untuk menjadi dewasa, nanti juga akan tiba waktunya. Setiap fase dalam hidup punya momen yang berharga, tergantung dengan gimana cara kita menikmatinya. Masalah bukan jadi alasan untuk menyerah. Setidaknya, belum saatnya.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://senanjana.writeas.com/dewasa-bukan-hanya-sekedar-usia</guid>
      <pubDate>Tue, 30 Mar 2021 08:57:56 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Mengeluh, tetapi tidak jatuh.</title>
      <link>https://senanjana.writeas.com/mengeluh-tetapi-tidak-jatuh?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;Akhir Januari 2021, bisa dibilang adalah awal tahun yang cukup berat untuk gue lalui.&#xA;&#xA;Banyak sekali hal diluar ekspektasi yang datang bertubi-tubi. Rasanya seperti mimpi buruk yang nggak berujung. Perasan bersalah, cemas, khawatir, sedih, marah, kesal, kecewa, hampir gue rasakan setiap malam sejak gue harus diisolasi di wisma atlet. !--more--&#xA;&#xA;Iya, gue adalah salah satu pejuang negatif covid-19 sejak tanggal 25 Januari 2021. Bukan cuma gue, bahkan satu keluarga gue pun harus bisa menerima kenyataan bahwa mereka positif covid-19.&#xA;&#xA;Saat itu rasa bersalah benar-benar nggak bisa gue hindari karena gue adalah orang pertama yang dinyatakan positif covid-19 di keluarga gue.&#xA;&#xA;Gue sempat beberapa kali berpikir, apakah gue sedang diberi cobaan atau malah ini adalah sebuah hukuman?&#xA;&#xA;27 Januari 2021 adalah awal mula mimpi buruk yang sesungguhnya. Ibu dan kakak gue masuk ke wisma atlet, tapi keadaan Ibu gue memburuk karena sesak. Ibu gue dirawat di ruang khusus, dan harus dibantu dengan alat bantu pernapasan.&#xA;&#xA;Sejak saat itu hari-hari isolasi gue di wisma atlet mulai terasa begitu melelahkan, baik secara psikis maupun fisik.&#xA;&#xA;Gue takut setiap kali harus menginjakkan kaki ke IGD dan HCU tempat Ibu gue dirawat, pun gue jadi sangat amat ketakutan setiap kali mendengar suara alat bantu napas, hingga suara sepatu boots perawat ataupun dokter yang lewat.&#xA;&#xA;Kalau boleh jujur, rasanya berat. Berat sekali setiap harinya. Gue, Kakak, Adek, dan Bapak harus gantian berjaga di IGD dan sekarang pindah ke HCU, dengan kondisi yang sama-sama sakit. Belum lagi sepulang menjaga harus cuci baju dan jemur, makan, minum obat.&#xA;&#xA;Terkadang gue merasa bahwa gue nggak memiliki waktu untuk memikirkan diri sendiri.&#xA;&#xA;Gue benar-benar cemas, takut, sampai di titik di mana gue nggak bisa tidur nyenyak karena jantung yang berdebar kencang dan pikiran yang nggak bisa tenang.&#xA;&#xA;Saat itu alih-alih merasa sedih, gue lebih merasa marah dan kesal atas segala hal yang terjadi. Entah, mungkin karena lelah, kewalahan dengan banyak hal yang datang bertubi-tubi.&#xA;&#xA;Kenapa harus gue? Kenapa begini? Kenapa sekarang? Kenapa semuanya jadi hancur berantakan kayak gini?&#xA;&#xA;Gue hampir berada di titik terendah gue, rasanya mau ngeluh dan nangis sekencang-kencangnya, tapi gue merasa nggak pantas akan hal itu.&#xA;&#xA;Banyak yang melalui masa-masa sulit ini lebih dari gue. Kakak, Adek, Bapak, semua juga merasakan hal yang sama. Bahkan mungkin keluarga lain pun pernah melalui fase ini.&#xA;&#xA;Dalam masa-masa itu gue belajar bahwa terkadang, setelah seluruh doa dan usaha yang sudah dilakukan, ada kalanya kita hanya harus berserah kepada Tuhan mengenai hasil akhir yang akan diberikan.&#xA;&#xA;Kita nggak akan pernah tau apa yang akan terjadi besok, lusa, atau bahkan satu menit dari sekarang.&#xA;&#xA;Gue mulai belajar bahwa, untuk saat ini lakukan segala hal dengan sepenuh hati, dan kurangi perasaan egois yang ada di dalam diri.&#xA;&#xA;Kita bukan berlomba untuk menunjukkan siapa yang paling lelah dan capek, tapi bagaimana dalam keadaan yang sama-sama melelahkan ini, kita bisa saling menguatkan.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>Akhir Januari 2021, bisa dibilang adalah awal tahun yang cukup berat untuk gue lalui.</p>

<p>Banyak sekali hal diluar ekspektasi yang datang bertubi-tubi. Rasanya seperti mimpi buruk yang nggak berujung. Perasan bersalah, cemas, khawatir, sedih, marah, kesal, kecewa, hampir gue rasakan setiap malam sejak gue harus diisolasi di wisma atlet. </p>

<p>Iya, gue adalah salah satu pejuang negatif covid-19 sejak tanggal 25 Januari 2021. Bukan cuma gue, bahkan satu keluarga gue pun harus bisa menerima kenyataan bahwa mereka positif covid-19.</p>

<p>Saat itu rasa bersalah benar-benar nggak bisa gue hindari karena gue adalah orang pertama yang dinyatakan positif covid-19 di keluarga gue.</p>

<p>Gue sempat beberapa kali berpikir, apakah gue sedang diberi cobaan atau malah ini adalah sebuah hukuman?</p>

<p>27 Januari 2021 adalah awal mula mimpi buruk yang sesungguhnya. Ibu dan kakak gue masuk ke wisma atlet, tapi keadaan Ibu gue memburuk karena sesak. Ibu gue dirawat di ruang khusus, dan harus dibantu dengan alat bantu pernapasan.</p>

<p>Sejak saat itu hari-hari isolasi gue di wisma atlet mulai terasa begitu melelahkan, baik secara psikis maupun fisik.</p>

<p>Gue takut setiap kali harus menginjakkan kaki ke IGD dan HCU tempat Ibu gue dirawat, pun gue jadi sangat amat ketakutan setiap kali mendengar suara alat bantu napas, hingga suara sepatu boots perawat ataupun dokter yang lewat.</p>

<p>Kalau boleh jujur, rasanya berat. Berat sekali setiap harinya. Gue, Kakak, Adek, dan Bapak harus gantian berjaga di IGD dan sekarang pindah ke HCU, dengan kondisi yang sama-sama sakit. Belum lagi sepulang menjaga harus cuci baju dan jemur, makan, minum obat.</p>

<p>Terkadang gue merasa bahwa gue nggak memiliki waktu untuk memikirkan diri sendiri.</p>

<p>Gue benar-benar cemas, takut, sampai di titik di mana gue nggak bisa tidur nyenyak karena jantung yang berdebar kencang dan pikiran yang nggak bisa tenang.</p>

<p>Saat itu alih-alih merasa sedih, gue lebih merasa marah dan kesal atas segala hal yang terjadi. Entah, mungkin karena lelah, kewalahan dengan banyak hal yang datang bertubi-tubi.</p>

<p>Kenapa harus gue? Kenapa begini? Kenapa sekarang? Kenapa semuanya jadi hancur berantakan kayak gini?</p>

<p>Gue hampir berada di titik terendah gue, rasanya mau ngeluh dan nangis sekencang-kencangnya, tapi gue merasa nggak pantas akan hal itu.</p>

<p>Banyak yang melalui masa-masa sulit ini lebih dari gue. Kakak, Adek, Bapak, semua juga merasakan hal yang sama. Bahkan mungkin keluarga lain pun pernah melalui fase ini.</p>

<p>Dalam masa-masa itu gue belajar bahwa terkadang, setelah seluruh doa dan usaha yang sudah dilakukan, ada kalanya kita hanya harus berserah kepada Tuhan mengenai hasil akhir yang akan diberikan.</p>

<p>Kita nggak akan pernah tau apa yang akan terjadi besok, lusa, atau bahkan satu menit dari sekarang.</p>

<p>Gue mulai belajar bahwa, untuk saat ini lakukan segala hal dengan sepenuh hati, dan kurangi perasaan egois yang ada di dalam diri.</p>

<p>Kita bukan berlomba untuk menunjukkan siapa yang paling lelah dan capek, tapi bagaimana dalam keadaan yang sama-sama melelahkan ini, kita bisa saling menguatkan.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://senanjana.writeas.com/mengeluh-tetapi-tidak-jatuh</guid>
      <pubDate>Tue, 02 Feb 2021 13:41:21 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Melangkah dan belajar, bukan hanya mengejar.</title>
      <link>https://senanjana.writeas.com/melangkah-dan-belajar-bukan-hanya-mengejar?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;Pernah merasa kalau orang lain bergerak terlalu cepat dan meninggalkan kita yang bahkan belum memulai apapun? &#xA;&#xA;Sejak menginjak tingkat akhir, gue seringkali merasakan hal tersebut. &#xA;&#xA;Rasanya seperti ada banyak sekali hal yang harus dikejar secepat mungkin, dan ketika orang lain lebih dulu sampai ke titik yang dikejar, gue benar-benar merasa tertinggal jauh. !--more--&#xA;&#xA;Belakangan gue jadi sering berpikir, apakah gue yang terlalu lambat atau memang mereka yang begitu cepat?&#xA;&#xA;Hingga suatu ketika, gue menyadari satu hal bahwa sebenarnya, kita semua memiliki zona waktu yang berbeda.&#xA;&#xA;Zona waktu untuk diri sendiri dan apa yang harus kita lakukan nanti.&#xA;&#xA;Ada bunga yang hanya bisa mekar saat musim dingin, ada juga bunga yang mekar saat musim semi. Keduanya sama-sama cantik pada masanya, hanya memang tidak di saat yang bersamaan.&#xA;&#xA;Mereka memiliki waktunya sendiri.&#xA;&#xA;Memang nggak ada salahnya untuk melihat sejauh mana orang lain berproses, tapi terkadang ketika melihat hal tersebut, kita seringkali melupakan segala hal yang telah kita capai dan kita rencanakan untuk ke depan.&#xA;&#xA;Nggak perlu khawatir, karena selama kita tau dan paham apa yang sedang kita lakukan, kita nggak akan tertinggal, kok.&#xA;&#xA;Baik gue ataupun kalian, kita masih tetap berjalan dan belajar mengenai banyak hal. Toh, nanti juga akan tiba saatnya di mana kita akan sampai pada tujuan dengan tepat waktu.&#xA;&#xA;Nggak perlu mengejar sesuatu yang tiada akhir, karena kita memang tidak pernah benar-benar tertinggal.&#xA;&#xA;Setiap individu memiliki zona waktu yang berbeda untuk mencapai tempat yang ingin dituju.&#xA;&#xA;Seringkali kita tidak menyadari bahwa kita semua adalah orang-orang yang kuat dan hebat. Jadi, teruslah melangkah, berjalan, dan belajar dari segala hal yang kita temui selama proses perjalanan ini.&#xA;&#xA;Kalau lelah pun, nggak ada salahnya untuk istirahat sejenak.&#xA;&#xA;Sejauh ini, kita sudah banyak melakukan hal-hal hebat, serta melewati banyak rintangan yang sempat membuat kita hampir menyerah dengan keadaan.&#xA;&#xA;Tapi, toh, akhirnya kita sampai pada titik ini, kan? Meskipun memiliki pilihan untuk berhenti, kita tetap melangkah hingga sejauh ini.&#xA;&#xA;Jadi, ketika lo merasa tertinggal, nggak perlu merasa putus asa. Lo hanya memiliki zona waktu yang berbeda dari mereka.&#xA;&#xA;Tetap semangat dalam menjalani prosesnya! Gue percaya, nggak lama lagi lo juga akan tiba pada masa itu!&#xA;&#xA;Tulisan ini ditulis sebagai penenang di tengah ruwetnya pikiran gue mengenai tempat magang, hahaha.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>Pernah merasa kalau orang lain bergerak terlalu cepat dan meninggalkan kita yang bahkan belum memulai apapun?</p>

<p>Sejak menginjak tingkat akhir, gue seringkali merasakan hal tersebut.</p>

<p>Rasanya seperti ada banyak sekali hal yang harus dikejar secepat mungkin, dan ketika orang lain lebih dulu sampai ke titik yang dikejar, gue benar-benar merasa tertinggal jauh. </p>

<p>Belakangan gue jadi sering berpikir, apakah gue yang terlalu lambat atau memang mereka yang begitu cepat?</p>

<p>Hingga suatu ketika, gue menyadari satu hal bahwa sebenarnya, kita semua memiliki zona waktu yang berbeda.</p>

<p>Zona waktu untuk diri sendiri dan apa yang harus kita lakukan nanti.</p>

<p>Ada bunga yang hanya bisa mekar saat musim dingin, ada juga bunga yang mekar saat musim semi. Keduanya sama-sama cantik pada masanya, hanya memang tidak di saat yang bersamaan.</p>

<p>Mereka memiliki waktunya sendiri.</p>

<p>Memang nggak ada salahnya untuk melihat sejauh mana orang lain berproses, tapi terkadang ketika melihat hal tersebut, kita seringkali melupakan segala hal yang telah kita capai dan kita rencanakan untuk ke depan.</p>

<p>Nggak perlu khawatir, karena selama kita tau dan paham apa yang sedang kita lakukan, kita nggak akan tertinggal, kok.</p>

<p>Baik gue ataupun kalian, kita masih tetap berjalan dan belajar mengenai banyak hal. Toh, nanti juga akan tiba saatnya di mana kita akan sampai pada tujuan dengan tepat waktu.</p>

<p>Nggak perlu mengejar sesuatu yang tiada akhir, karena kita memang tidak pernah benar-benar tertinggal.</p>

<p>Setiap individu memiliki zona waktu yang berbeda untuk mencapai tempat yang ingin dituju.</p>

<p>Seringkali kita tidak menyadari bahwa kita semua adalah orang-orang yang kuat dan hebat. Jadi, teruslah melangkah, berjalan, dan belajar dari segala hal yang kita temui selama proses perjalanan ini.</p>

<p>Kalau lelah pun, nggak ada salahnya untuk istirahat sejenak.</p>

<p>Sejauh ini, kita sudah banyak melakukan hal-hal hebat, serta melewati banyak rintangan yang sempat membuat kita hampir menyerah dengan keadaan.</p>

<p>Tapi, toh, akhirnya kita sampai pada titik ini, kan? Meskipun memiliki pilihan untuk berhenti, kita tetap melangkah hingga sejauh ini.</p>

<p>Jadi, ketika lo merasa tertinggal, nggak perlu merasa putus asa. Lo hanya memiliki zona waktu yang berbeda dari mereka.</p>

<p>Tetap semangat dalam menjalani prosesnya! Gue percaya, nggak lama lagi lo juga akan tiba pada masa itu!</p>

<p>Tulisan ini ditulis sebagai penenang di tengah ruwetnya pikiran gue mengenai tempat magang, hahaha.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://senanjana.writeas.com/melangkah-dan-belajar-bukan-hanya-mengejar</guid>
      <pubDate>Thu, 17 Dec 2020 15:26:46 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Berpegangan, suatu saat kita dapat saling menguatkan.</title>
      <link>https://senanjana.writeas.com/berpegangan-suatu-saat-kita-dapat-saling-menguatkan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;Akhir-akhir ini banyak sekali hal yang gue alami, dan berujung menjadi pikiran-pikiran kecil yang sebetulnya belum tentu terjadi.&#xA;&#xA;Mungkin memang lagi masanya, tapi dampak yang diberikan kepada kegiatan sehari-hari, juga perasaan gue itu cukup besar. !--more--&#xA;&#xA;Kurang fokus, nggak makan dengan teratur, jam tidur berantakan, dan mengalami perubahan emosi yang begitu signifikan.&#xA;&#xA;Gue bahkan sempat merasa kesal dengan diri sendiri karena hal itu. Gue uring-uringan seharian, mood bener-bener nggak jelas dan sulit buat dikendalikan.&#xA;&#xA;Pada saat-saat seperti itu, rasanya memang berat, dan seringkali merasa nggak ada orang lain yang perhatian ataupun mengerti dengan keadaan diri sendiri.&#xA;&#xA;Bahkan diri sendiri juga bingung dengan apa yang sedang terjadi. &#xA;&#xA;Kadang lebih sering bengong, atau memikirkan segalanya dengan kepala yang mumet, seakan ada benang kusut sekali yang harus diluruskan dan bingung untuk memulai dari mana.&#xA;&#xA;Beruntungnya, di saat seperti itu, gue masih memiliki orang yang bisa mengerti.&#xA;&#xA;Dan itu benar-benar berarti.&#xA;&#xA;Rasanya dia udah seperti buku harian berjalan, tempat dimana gue bisa menceritakan segala kejadian tanpa harus merasa takut terlihat bodoh atau aneh, dan tanpa merasa takut akan dihakimi.&#xA;&#xA;Memang benar kita bangkit dari terpuruk itu atas kemauan dari dalam diri sendiri, tapi terkadang tanpa gue sadari, ternyata ada orang yang membantu untuk menopang agar gue tidak benar-benar jatuh seluruhnya.&#xA;&#xA;Dan gue sangat amat berterima kasih atas kehadiran mereka, yang selalu menyediakan tempat untuk berbagi cerita.&#xA;&#xA;Semoga untuk kedepannya, kita masih bisa menjaga hubungan, tetap berpegangan, dan saling menguatkan.&#xA;&#xA;Terima kasih karena sudah hadir.&#xA;&#xA;Gue harap gue juga dapat menjadi sosok yang seperti itu dalam hidup lo atau bahkan dalam hidup orang lain yang sedang membutuhkan tempat untuk istirahat sejenak dari penatnya problematika kehidupan mereka.&#xA;&#xA;Bahagia selalu ya, orang-orang kuat!]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>Akhir-akhir ini banyak sekali hal yang gue alami, dan berujung menjadi pikiran-pikiran kecil yang sebetulnya belum tentu terjadi.</p>

<p>Mungkin memang lagi masanya, tapi dampak yang diberikan kepada kegiatan sehari-hari, juga perasaan gue itu cukup besar. </p>

<p>Kurang fokus, nggak makan dengan teratur, jam tidur berantakan, dan mengalami perubahan emosi yang begitu signifikan.</p>

<p>Gue bahkan sempat merasa kesal dengan diri sendiri karena hal itu. Gue uring-uringan seharian, mood bener-bener nggak jelas dan sulit buat dikendalikan.</p>

<p>Pada saat-saat seperti itu, rasanya memang berat, dan seringkali merasa nggak ada orang lain yang perhatian ataupun mengerti dengan keadaan diri sendiri.</p>

<p>Bahkan diri sendiri juga bingung dengan apa yang sedang terjadi.</p>

<p>Kadang lebih sering bengong, atau memikirkan segalanya dengan kepala yang mumet, seakan ada benang kusut sekali yang harus diluruskan dan bingung untuk memulai dari mana.</p>

<p>Beruntungnya, di saat seperti itu, gue masih memiliki orang yang bisa mengerti.</p>

<p>Dan itu benar-benar berarti.</p>

<p>Rasanya dia udah seperti buku harian berjalan, tempat dimana gue bisa menceritakan segala kejadian tanpa harus merasa takut terlihat bodoh atau aneh, dan tanpa merasa takut akan dihakimi.</p>

<p>Memang benar kita bangkit dari terpuruk itu atas kemauan dari dalam diri sendiri, tapi terkadang tanpa gue sadari, ternyata ada orang yang membantu untuk menopang agar gue tidak benar-benar jatuh seluruhnya.</p>

<p>Dan gue sangat amat berterima kasih atas kehadiran mereka, yang selalu menyediakan tempat untuk berbagi cerita.</p>

<p>Semoga untuk kedepannya, kita masih bisa menjaga hubungan, tetap berpegangan, dan saling menguatkan.</p>

<p>Terima kasih karena sudah hadir.</p>

<p>Gue harap gue juga dapat menjadi sosok yang seperti itu dalam hidup lo atau bahkan dalam hidup orang lain yang sedang membutuhkan tempat untuk istirahat sejenak dari penatnya problematika kehidupan mereka.</p>

<p>Bahagia selalu ya, orang-orang kuat!</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://senanjana.writeas.com/berpegangan-suatu-saat-kita-dapat-saling-menguatkan</guid>
      <pubDate>Tue, 13 Oct 2020 20:18:03 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Antara kita. </title>
      <link>https://senanjana.writeas.com/aku-pikir-sejauh-ini-kita-sama?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;Aku pikir, sejauh ini kita sama.&#xA;&#xA;Nyatanya, kita adalah dua yang berbeda.&#xA;&#xA;Meskipun terlihat begitu samar, perbedaan itu amat terasa.&#xA;&#xA;Sepertinya selama ini aku lebih memilih berpura-pura buta akan perbedaan-perbedaan samar itu, tetapi satu yang tak bisa dipungkiri, perasaan itu selalu ada. !--more--&#xA;&#xA;Mungkin perbedaan itu sengaja dibuat agar kita dapat saling mendekat. Namun ada kalanya, ia membuat kita seringkali berdebat hebat.&#xA;&#xA;Dua kutub magnet yang saling berbeda, mau diupayakan seperti apapun tidak akan sama. Memang sudah begitu adanya. Tetapi walaupun begitu, keduanya dapat menjadi satu yang saling mendamba.&#xA;&#xA;Lain halnya dengan sepatu yang berbeda dan dimasukkan bersebelahan ke dalam satu kotak. Akan terlihat aneh. Bahkan tidak sedikit yang merasa bahwa sang pengirim mengirimkan sepatu yang salah hanya karena perbedaan itu.&#xA;&#xA;Kamu dan aku, adalah dua buah magnet atau sepasang sepatu yang berbeda?&#xA;&#xA;Haruskah kita terus berusaha? atau berhenti sampai di sini saja?]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>Aku pikir, sejauh ini kita sama.</p>

<p>Nyatanya, kita adalah dua yang berbeda.</p>

<p>Meskipun terlihat begitu samar, perbedaan itu amat terasa.</p>

<p>Sepertinya selama ini aku lebih memilih berpura-pura buta akan perbedaan-perbedaan samar itu, tetapi satu yang tak bisa dipungkiri, perasaan itu selalu ada. </p>

<p>Mungkin perbedaan itu sengaja dibuat agar kita dapat saling mendekat. Namun ada kalanya, ia membuat kita seringkali berdebat hebat.</p>

<p>Dua kutub magnet yang saling berbeda, mau diupayakan seperti apapun tidak akan sama. Memang sudah begitu adanya. Tetapi walaupun begitu, keduanya dapat menjadi satu yang saling mendamba.</p>

<p>Lain halnya dengan sepatu yang berbeda dan dimasukkan bersebelahan ke dalam satu kotak. Akan terlihat aneh. Bahkan tidak sedikit yang merasa bahwa sang pengirim mengirimkan sepatu yang salah hanya karena perbedaan itu.</p>

<p>Kamu dan aku, adalah dua buah magnet atau sepasang sepatu yang berbeda?</p>

<p>Haruskah kita terus berusaha? atau berhenti sampai di sini saja?</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://senanjana.writeas.com/aku-pikir-sejauh-ini-kita-sama</guid>
      <pubDate>Sat, 03 Oct 2020 13:11:33 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>You&#39;d never know what&#39;s inside someone&#39;s heart.</title>
      <link>https://senanjana.writeas.com/you-never-know-whats-in-a-persons-heart?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;Kamu nggak akan pernah tau apa &#xA;atau bagaimana isi hati seseorang.&#xA;&#xA;Banyak, banyak sekali orang yang hatinya sudah hancur berkeping-keping, tercabik-cabik, tak berbentuk, tetapi tidak menunjukkannya kepada siapapun.&#xA;&#xA;Banyak pula orang yang isi hatinya sedang mendung, kelabu, redup, tetapi tetap menampilkan senyum terbaik yang ia miliki. !--more--&#xA;&#xA;Pun ada yang hatinya telah kelam, mati, tidak merasa apapun namun tetap menjalani hidup.&#xA;&#xA;Terlihat kuat, memang. Tapi kita nggak bisa menjadi kuat setiap saat, atau selalu bersandiwara seakan semua baik-baik saja.&#xA;&#xA;Banyak yang bilang, badai pasti berlalu. Tapi dalam beberapa hal yang gue alami, badai itu nggak berlalu. Dia tetap ada di sana, dan terkadang kembali di saat tertentu.&#xA;&#xA;Mungkin, berlalu bukanlah kata yang tepat untuk mengusir badai.&#xA;&#xA;Terkadang kita hanya perlu menerima hal yang tidak mengenakkan itu, menyadari bahwa itu adalah bagian dari kehidupuan, bukan mengusir atau menghapusnya. Apalagi berpura-pura tegar dalam menghadapinya.&#xA;&#xA;Untuk yang sedang berproses dalam menyembuhkan luka, mungkin tidak akan bisa hilang hanya dengan hitungan malam pun hari, atau mungkin akan menetap di sana dalam kurun waktu yang lama.&#xA;&#xA;Tapi, yakini satu hal bahwa sebenarnya, luka yang kamu miliki pasti membantumu untuk bertumbuh.&#xA;&#xA;Memang, kamu nggak akan pernah tau isi hati orang lain. Tapi kamu dapat membantu dengan tetap berada di sisinya, menemani, tidak banyak berkomentar pun mengkritik, dan tidak meninggalkannya seorang diri.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>Kamu nggak akan pernah tau apa
atau bagaimana isi hati seseorang.</p>

<p>Banyak, banyak sekali orang yang hatinya sudah hancur berkeping-keping, tercabik-cabik, tak berbentuk, tetapi tidak menunjukkannya kepada siapapun.</p>

<p>Banyak pula orang yang isi hatinya sedang mendung, kelabu, redup, tetapi tetap menampilkan senyum terbaik yang ia miliki. </p>

<p>Pun ada yang hatinya telah kelam, mati, tidak merasa apapun namun tetap menjalani hidup.</p>

<p>Terlihat kuat, memang. Tapi kita nggak bisa menjadi kuat setiap saat, atau selalu bersandiwara seakan semua baik-baik saja.</p>

<p>Banyak yang bilang, badai pasti berlalu. Tapi dalam beberapa hal yang gue alami, badai itu nggak berlalu. Dia tetap ada di sana, dan terkadang kembali di saat tertentu.</p>

<p>Mungkin, berlalu bukanlah kata yang tepat untuk mengusir badai.</p>

<p>Terkadang kita hanya perlu menerima hal yang tidak mengenakkan itu, menyadari bahwa itu adalah bagian dari kehidupuan, bukan mengusir atau menghapusnya. Apalagi berpura-pura tegar dalam menghadapinya.</p>

<p>Untuk yang sedang berproses dalam menyembuhkan luka, mungkin tidak akan bisa hilang hanya dengan hitungan malam pun hari, atau mungkin akan menetap di sana dalam kurun waktu yang lama.</p>

<p>Tapi, yakini satu hal bahwa sebenarnya, luka yang kamu miliki pasti membantumu untuk bertumbuh.</p>

<p>Memang, kamu nggak akan pernah tau isi hati orang lain. Tapi kamu dapat membantu dengan tetap berada di sisinya, menemani, tidak banyak berkomentar pun mengkritik, dan tidak meninggalkannya seorang diri.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://senanjana.writeas.com/you-never-know-whats-in-a-persons-heart</guid>
      <pubDate>Sun, 06 Sep 2020 05:14:37 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Suatu peristiwa ketika bertambah usia.</title>
      <link>https://senanjana.writeas.com/suatu-peristiwa-ketika-bertambah-usia?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;Ada kalanya gue ingin sekali menulis, tapi malah nggak bisa mendeskripsikan apapun yang gue rasa pun yang ada di kepala.&#xA;&#xA;Mungkin, itu sebabnya kenapa belakangan ini gue jarang sekali menulis. !--more--&#xA;&#xA;Rasanya agak sedikit aneh, tapi kalau bukan dengan menulis, gue nggak ngerti harus mengutarakan ini dengan cara apa lagi. &#xA;&#xA;Jarang orang yang bisa mengerti.&#xA;&#xA;Omong-omong, sebentar lagi gue bakalan masuk ke tahap baru dalam hidup gue, dan entah kenapa belakangan ini gue malah sering merasa sendu.&#xA;&#xA;Gue merasa kalau banyak hal di sekitar gue yang udah berubah, begitupun orang-orang terdekat gue.&#xA;&#xA;Entah ini memang benar adanya atau cuma gue yang terlalu berlebihan, tapi gue merasa... berbeda.&#xA;&#xA;Gue enggak bisa senyaman dulu.&#xA;&#xA;Hal-hal yang dulu rasanya sangat menyenangkan, lama-lama malah jadi membosankan.&#xA;&#xA;Tawa yang sering terdengar, sekarang sudah pudar.&#xA;&#xA;Sebagian besar berubah, seakan orang-orang bergerak dan cuma gue sendiri yang diam kebingugan.&#xA;&#xA;Gue sempat beberapa kali meyakinkan diri gue bahwa semua ini bukan masalah besar. Gue coba untuk menyakinkan diri gue sendiri bahwa semua ini tuh bukan apa-apa, dan gue harus bisa untuk mengikuti perubahan ini.&#xA;&#xA;Tapi gue nggak kunjung menemukan nyaman yang seperti dulu.&#xA;&#xA;Gue jadi lebih sering untuk menahan diri, dan bertanya-tanya yang bahkan pertanyaan itu sama sekali nggak bisa gue lontarkan secara langsung, nggak bisa gue tanyakan secara langsung. &#xA;&#xA;Pada akhirnya, gue mencoba untuk mencari jawabannya sendiri, dan itu sangat memusingkan.&#xA;&#xA;Belum lagi beberapa hal yang sangat nggak terduga dan mengganggu kepala gue mulai bermunculan.&#xA;&#xA;Gue nggak ngerti harus gimana lagi mendeskripsikan perasaan gue saat ini.&#xA;&#xA;Dan kadang ada satu situasi di mana gue menyadari bahwa mungkin, sebenarnya, gue belum siap untuk menjadi dewasa.&#xA;&#xA;Gue juga nggak bisa untuk bilang &#34;Jangan berubah!&#34; karena itu adalah hal-hal di luar kontrol gue.&#xA;&#xA;Haah.. kadang hidup tuh emang lucu, ya.&#xA;&#xA;Hanya dalam beberapa waktu aja lo bisa kehilangan. Hanya dalam beberapa waktu aja, lo bisa menjadi orang lain yang terasa begitu asing.&#xA;&#xA;Sedih. Banget.&#xA;&#xA;Tapi ya... mau gimana lagi, kan. In the end, balik lagi ke diri sendiri.&#xA;&#xA;Semoga selalu diberkahi dengan kebahagiaan, entah itu kamu yang dulu atau sekarang, pun aku yang dulu maupun sekarang.&#xA;&#xA;Mungkin semesta punya rencana, dan satu di antara ribuan rencana itu adalah dengan mempertemukan kita dalam proses menjadi dewasa.&#xA;&#xA;Bertambah usia bukan berarti aku harus dipaksa menjadi dewasa, kan?&#xA;&#xA;Terima kasih untuk semua yang sudah mampir ke dalam hidup dan memberikan banyak pelajaran untuk terus berproses.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>Ada kalanya gue ingin sekali menulis, tapi malah nggak bisa mendeskripsikan apapun yang gue rasa pun yang ada di kepala.</p>

<p>Mungkin, itu sebabnya kenapa belakangan ini gue jarang sekali menulis. </p>

<p>Rasanya agak sedikit aneh, tapi kalau bukan dengan menulis, gue nggak ngerti harus mengutarakan ini dengan cara apa lagi.</p>

<p>Jarang orang yang bisa mengerti.</p>

<p>Omong-omong, sebentar lagi gue bakalan masuk ke tahap baru dalam hidup gue, dan entah kenapa belakangan ini gue malah sering merasa sendu.</p>

<p>Gue merasa kalau banyak hal di sekitar gue yang udah berubah, begitupun orang-orang terdekat gue.</p>

<p>Entah ini memang benar adanya atau cuma gue yang terlalu berlebihan, tapi gue merasa... berbeda.</p>

<p>Gue enggak bisa senyaman dulu.</p>

<p>Hal-hal yang dulu rasanya sangat menyenangkan, lama-lama malah jadi membosankan.</p>

<p>Tawa yang sering terdengar, sekarang sudah pudar.</p>

<p>Sebagian besar berubah, seakan orang-orang bergerak dan cuma gue sendiri yang diam kebingugan.</p>

<p>Gue sempat beberapa kali meyakinkan diri gue bahwa semua ini bukan masalah besar. Gue coba untuk menyakinkan diri gue sendiri bahwa semua ini tuh bukan apa-apa, dan gue harus bisa untuk mengikuti perubahan ini.</p>

<p>Tapi gue nggak kunjung menemukan nyaman yang seperti dulu.</p>

<p>Gue jadi lebih sering untuk menahan diri, dan bertanya-tanya yang bahkan pertanyaan itu sama sekali nggak bisa gue lontarkan secara langsung, nggak bisa gue tanyakan secara langsung.</p>

<p>Pada akhirnya, gue mencoba untuk mencari jawabannya sendiri, dan itu sangat memusingkan.</p>

<p>Belum lagi beberapa hal yang sangat nggak terduga dan mengganggu kepala gue mulai bermunculan.</p>

<p>Gue nggak ngerti harus gimana lagi mendeskripsikan perasaan gue saat ini.</p>

<p>Dan kadang ada satu situasi di mana gue menyadari bahwa mungkin, sebenarnya, gue belum siap untuk menjadi dewasa.</p>

<p>Gue juga nggak bisa untuk bilang “Jangan berubah!” karena itu adalah hal-hal di luar kontrol gue.</p>

<p>Haah.. kadang hidup tuh emang lucu, ya.</p>

<p>Hanya dalam beberapa waktu aja lo bisa kehilangan. Hanya dalam beberapa waktu aja, lo bisa menjadi orang lain yang terasa begitu asing.</p>

<p>Sedih. Banget.</p>

<p>Tapi ya... mau gimana lagi, kan. In the end, balik lagi ke diri sendiri.</p>

<p>Semoga selalu diberkahi dengan kebahagiaan, entah itu kamu yang dulu atau sekarang, pun aku yang dulu maupun sekarang.</p>

<p>Mungkin semesta punya rencana, dan satu di antara ribuan rencana itu adalah dengan mempertemukan kita dalam proses menjadi dewasa.</p>

<p>Bertambah usia bukan berarti aku harus dipaksa menjadi dewasa, kan?</p>

<p>Terima kasih untuk semua yang sudah mampir ke dalam hidup dan memberikan banyak pelajaran untuk terus berproses.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://senanjana.writeas.com/suatu-peristiwa-ketika-bertambah-usia</guid>
      <pubDate>Tue, 25 Aug 2020 18:41:36 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Apa salahnya untuk menangis?</title>
      <link>https://senanjana.writeas.com/apa-salahnya-untuk-menangis?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;Sejak gue kecil, orang-orang selalu mengajarkan bahwa menangis itu nggak akan bisa menyelesaikan apapun. &#xA;&#xA;Banyak yang bilang, &#34;Jangan nangis,&#34; atau &#34;Gaboleh nangis!&#34; seakan-akan menangis adalah hal terlarang yang nggak boleh dilakukan dunia ini.&#xA;&#xA;Miris, ya? !--more--&#xA;&#xA;Bahkan untuk mengeluarkan emosi aja kita masih suka dikekang oleh orang lain.&#xA;&#xA;Memang, apa salahnya untuk menangis? Apa itu akan merugikan orang lain? Seolah kalau kita menangis, kita jadi terlihat benar-benar menyedihkan?&#xA;&#xA;Padahal kenyataannya, enggak sama sekali.&#xA;&#xA;Menangis itu bukan menunjukkan kalau lo lemah. Itu manusiawi. &#xA;&#xA;Beberapa orang punya cara yang berbeda untuk overcome their problem. &#xA;&#xA;Orang-orang juga punya berbagai cara untuk menyembuhkan rasa stress dan sakit hati yang mereka rasakan.&#xA;&#xA;Salah satunya adalah dengan menangis.&#xA;&#xA;Meluapkan emosi dan perasaan yang selama ini mereka pendam, yang selama ini mereka tahan.&#xA;&#xA;Coba bayangin, kalau orang lagi jatuh sejatuh-jatuhnya, kebingungan, nggak tau harus melakukan apa, dan ujung-ujungnya dia cuma bisa menangis.&#xA;&#xA;Terus, waku dia nangis, lo justru nyuruh dia untuk berhenti.&#xA;&#xA;&#34;Jangan nangis..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Cengeng banget lo&#34;&#xA;&#xA;&#34;Udah gede kok masih nangis.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ga capek apa nangis mulu?&#34;&#xA;&#xA;Capek. Capek banget, tapi gue bisa apa? Pura-pura bahagia? &#xA;&#xA;Tau nggak situasi apa yang paling membuat gue merasa sakit, dan hampir hilang keinginan untuk hidup di dunia ini?&#xA;&#xA;Situasi sedih, bingung, putus asa, gatau mau kemana, dan pada saat itu, gue nggak bisa apa-apa. Bahkan menangis sekalipun.&#xA;&#xA;Rasanya kayak mati. &#xA;&#xA;Perasaan lo mati. Nggak bisa apa-apa, gatau lagi harus gimana.&#xA;&#xA;Ya.. jadi, kalau lo mau nangis, nangis aja sekenceng-kencengnya. Nangis selama yang lo mau sampai perasaan lo menjadi lega.&#xA;&#xA;Nggak ada salahnya untuk bersedih, nggak ada salahnya untuk menangis.&#xA;&#xA;Yang salah itu, orang-orang yang memaksakan kehendak mereka, menyuruh kita untuk bahagia padahal situasinya sedang nggak mendukung sama sekali.&#xA;&#xA;Kita gak bisa selamanya merasa senang, bahagia, positif, gak bisa.&#xA;&#xA;Dan gak usah dipaksa.&#xA;&#xA;Lakukan apa yang bisa lo lakukan untuk membuat diri lo merasa lebih baik. Semua itu kendali lo, semua itu hak lo.&#xA;&#xA;Setiap orang itu berbeda. Nggak bisa dipaksa untuk sama. Hargai cara masing-masing orang dalam menjalani fase hidup mereka.&#xA;&#xA;You will heal when you are ready to. Not when they said you should.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>Sejak gue kecil, orang-orang selalu mengajarkan bahwa menangis itu nggak akan bisa menyelesaikan apapun.</p>

<p>Banyak yang bilang, “Jangan nangis,” atau “Gaboleh nangis!” seakan-akan menangis adalah hal terlarang yang nggak boleh dilakukan dunia ini.</p>

<p>Miris, ya? </p>

<p>Bahkan untuk mengeluarkan emosi aja kita masih suka dikekang oleh orang lain.</p>

<p>Memang, apa salahnya untuk menangis? Apa itu akan merugikan orang lain? Seolah kalau kita menangis, kita jadi terlihat benar-benar menyedihkan?</p>

<p>Padahal kenyataannya, enggak sama sekali.</p>

<p>Menangis itu bukan menunjukkan kalau lo lemah. Itu manusiawi.</p>

<p>Beberapa orang punya cara yang berbeda untuk overcome their problem.</p>

<p>Orang-orang juga punya berbagai cara untuk menyembuhkan rasa stress dan sakit hati yang mereka rasakan.</p>

<p>Salah satunya adalah dengan menangis.</p>

<p>Meluapkan emosi dan perasaan yang selama ini mereka pendam, yang selama ini mereka tahan.</p>

<p>Coba bayangin, kalau orang lagi jatuh sejatuh-jatuhnya, kebingungan, nggak tau harus melakukan apa, dan ujung-ujungnya dia cuma bisa menangis.</p>

<p>Terus, waku dia nangis, lo justru nyuruh dia untuk berhenti.</p>

<p>“Jangan nangis..”</p>

<p>“Cengeng banget lo”</p>

<p>“Udah gede kok masih nangis.”</p>

<p>“Ga capek apa nangis mulu?”</p>

<p>Capek. Capek banget, tapi gue bisa apa? Pura-pura bahagia?</p>

<p>Tau nggak situasi apa yang paling membuat gue merasa sakit, dan hampir hilang keinginan untuk hidup di dunia ini?</p>

<p>Situasi sedih, bingung, putus asa, gatau mau kemana, dan pada saat itu, gue nggak bisa apa-apa. Bahkan menangis sekalipun.</p>

<p>Rasanya kayak mati.</p>

<p>Perasaan lo mati. Nggak bisa apa-apa, gatau lagi harus gimana.</p>

<p>Ya.. jadi, kalau lo mau nangis, nangis aja sekenceng-kencengnya. Nangis selama yang lo mau sampai perasaan lo menjadi lega.</p>

<p>Nggak ada salahnya untuk bersedih, nggak ada salahnya untuk menangis.</p>

<p>Yang salah itu, orang-orang yang memaksakan kehendak mereka, menyuruh kita untuk bahagia padahal situasinya sedang nggak mendukung sama sekali.</p>

<p>Kita gak bisa selamanya merasa senang, bahagia, positif, gak bisa.</p>

<p>Dan gak usah dipaksa.</p>

<p>Lakukan apa yang bisa lo lakukan untuk membuat diri lo merasa lebih baik. Semua itu kendali lo, semua itu hak lo.</p>

<p>Setiap orang itu berbeda. Nggak bisa dipaksa untuk sama. Hargai cara masing-masing orang dalam menjalani fase hidup mereka.</p>

<p>You will heal when you are ready to. Not when they said you should.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://senanjana.writeas.com/apa-salahnya-untuk-menangis</guid>
      <pubDate>Sat, 13 Jun 2020 16:48:33 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Pada akhirnya, kamu hanya punya dirimu sendiri.</title>
      <link>https://senanjana.writeas.com/pada-akhirnya-kamu-hanya-punya-dirimu-sendiri?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;Hai, ini catatan dari seorang pesimis yang kerap kali merasa ragu akan hal-hal yang ingin sekali ia lakukan.&#xA;&#xA;Ini juga merupakan catatan dari seorang dengan banyak pikiran-pikiran nggak mengenakkan yang seringkali bermunculan di kepalanya.&#xA;&#xA;Kasihan, ya? !--more--&#xA;&#xA;&#34;Nggak apa-apa, udah biasa. I can deal with it kok, ini bukan hanya sekali dua kali aku seperti itu.&#34;&#xA;&#xA;Bohong.&#xA;&#xA;The truth is, rasanya sangat amat menyakitkan dan menyiksa diri.&#xA;&#xA;Udah nggak terhitung seberapa sering sosoknya yang pesimis dan selalu memikirkan kemungkinan terburuk dalam setiap kejadian di hidupnya itu menangis, ketakutan.&#xA;&#xA;Lelah.&#xA;&#xA;Emosi.&#xA;&#xA;Marah.&#xA;&#xA;Dan tidak tahu harus mengatakannya pada siapa.&#xA;&#xA;Perasaan yang bercampur itu, lama-kelamaan akhirnya hanya dapat meluruh bersamaan dengan air mata dan tangis.&#xA;&#xA;Memang ia cengeng.&#xA;&#xA;Tapi baginya itu adalah salah satu cara untuk merasa lebih baik karena seringkali, ia enggan untuk bercerita kepada orang lain.&#xA;&#xA;Lagipula, untuk apa bercerita jika pada akhirnya tidak ada yang berubah?&#xA;&#xA;Iya, tangis memang tidak dapat mengubah apapun, tetapi dirasa dapat membuat dirinya lebih baik. &#xA;&#xA;Namun, adakalanya ketika bercerita kepada orang lain, banyak yang tidak dapat mengerti, justru terkadang membuat dirinya merasa lebih buruk.&#xA;&#xA;Maka dari itu, baginya, menangis adalah salah satu cara yang paling mudah untuk membuat ia merasa lebih baik.&#xA;&#xA;Semakin bertambah usia, ia belajar bahwa pada akhirnya ia tidak memiliki orang lain selain dirinya sendiri.&#xA;&#xA;Mungkin memang sosoknya tidak sempurna, memiliki luka yang berkali-kali terkelupas kembali setelah sempat kering. Namun, hal tersebut justru membuat dirinya menjadi semakin kuat.&#xA;&#xA;Ia mampu tiba pada titik ini, dan itu semua berkat kemampuannya untuk bertahan dalam melalui segala rintangan yang pernah ia lewati sebelumnya.&#xA;&#xA;Untuk aku yang sudah bertahan hingga sejauh ini, terima kasih karena tidak menyerah.&#xA;&#xA;Untuk aku yang telah mampu mendapatkan segala pencapaian serta menghadapi rintangan yang telah dilalui, terima kasih.&#xA;&#xA;Kamu masih harus berjuang lagi, berjalan beriringan dengan perasaan takut, pikiran-pikiran mengganggu, dan rasa pesimis yang kerap kali muncul.&#xA;&#xA;Aku harap, hingga tibanya bahagia, kamu tetap kuat bertahan melalui segalanya.&#xA;&#xA;Aku percaya aku bisa.&#xA;&#xA;Meskipun nanti nggak ada seorangpun yang menyayangiku, aku nggak perlu takut. &#xA;&#xA;Karena seharusnya, aku adalah satu-satunya orang yang dapat menyayangi diriku sendiri lebih dari apapun.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>Hai, ini catatan dari seorang pesimis yang kerap kali merasa ragu akan hal-hal yang ingin sekali ia lakukan.</p>

<p>Ini juga merupakan catatan dari seorang dengan banyak pikiran-pikiran nggak mengenakkan yang seringkali bermunculan di kepalanya.</p>

<p>Kasihan, ya? </p>

<p>“Nggak apa-apa, udah biasa. I can deal with it kok, ini bukan hanya sekali dua kali aku seperti itu.”</p>

<p>Bohong.</p>

<p>The truth is, rasanya sangat amat menyakitkan dan menyiksa diri.</p>

<p>Udah nggak terhitung seberapa sering sosoknya yang pesimis dan selalu memikirkan kemungkinan terburuk dalam setiap kejadian di hidupnya itu menangis, ketakutan.</p>

<p>Lelah.</p>

<p>Emosi.</p>

<p>Marah.</p>

<p>Dan tidak tahu harus mengatakannya pada siapa.</p>

<p>Perasaan yang bercampur itu, lama-kelamaan akhirnya hanya dapat meluruh bersamaan dengan air mata dan tangis.</p>

<p>Memang ia cengeng.</p>

<p>Tapi baginya itu adalah salah satu cara untuk merasa lebih baik karena seringkali, ia enggan untuk bercerita kepada orang lain.</p>

<p>Lagipula, untuk apa bercerita jika pada akhirnya tidak ada yang berubah?</p>

<p>Iya, tangis memang tidak dapat mengubah apapun, tetapi dirasa dapat membuat dirinya lebih baik.</p>

<p>Namun, adakalanya ketika bercerita kepada orang lain, banyak yang tidak dapat mengerti, justru terkadang membuat dirinya merasa lebih buruk.</p>

<p>Maka dari itu, baginya, menangis adalah salah satu cara yang paling mudah untuk membuat ia merasa lebih baik.</p>

<p>Semakin bertambah usia, ia belajar bahwa pada akhirnya ia tidak memiliki orang lain selain dirinya sendiri.</p>

<p>Mungkin memang sosoknya tidak sempurna, memiliki luka yang berkali-kali terkelupas kembali setelah sempat kering. Namun, hal tersebut justru membuat dirinya menjadi semakin kuat.</p>

<p>Ia mampu tiba pada titik ini, dan itu semua berkat kemampuannya untuk bertahan dalam melalui segala rintangan yang pernah ia lewati sebelumnya.</p>

<p>Untuk aku yang sudah bertahan hingga sejauh ini, terima kasih karena tidak menyerah.</p>

<p>Untuk aku yang telah mampu mendapatkan segala pencapaian serta menghadapi rintangan yang telah dilalui, terima kasih.</p>

<p>Kamu masih harus berjuang lagi, berjalan beriringan dengan perasaan takut, pikiran-pikiran mengganggu, dan rasa pesimis yang kerap kali muncul.</p>

<p>Aku harap, hingga tibanya bahagia, kamu tetap kuat bertahan melalui segalanya.</p>

<p>Aku percaya aku bisa.</p>

<p>Meskipun nanti nggak ada seorangpun yang menyayangiku, aku nggak perlu takut.</p>

<p>Karena seharusnya, aku adalah satu-satunya orang yang dapat menyayangi diriku sendiri lebih dari apapun.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://senanjana.writeas.com/pada-akhirnya-kamu-hanya-punya-dirimu-sendiri</guid>
      <pubDate>Sun, 26 Apr 2020 22:27:00 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>